09 Desember 2008




The fury of Rend began in 2001 when Charlie Carpenter and Byron Gilmore connected through a local newspaper ad in Austin, TX. The original lineup played for years as a 3 piece before teaming up with Shon Young to help fill out the heavy sound that they were going for. When their bass player left the band in 2007, Rend was quick to enlist the talents of their good friend Adrian Garcia, who played in another local Austin band, to complete the brotherhood.

Over the past 7 years Rend has played hundreds of shows throughout Texas. Playing live is what this band is all about. When not sharing the stage with bands such as Goatwhore, Mushroomhead, Within Chaos, Oblige, and countless others, Rend is a consistent headlining act. Having been featured on the Texas Metal Edge Vol.4 Compilation CD in 2006, Rend currently have their song "Puncture" being played on No Control with Chuck Loesch , a weekly metal show on Austins rock station 101X, and have played the 101X Homegrown Live concert series.

After releasing a 3 song demo in early 2006, Rend has quickly built a solid fanbase. Now with the 2008 release of their debut cd "Serpentine Conquest", which contains the radio single "Puncture", Rend has its goals set on touring throughout the U.S. and beyond.

21 November 2008

Sindentosca Kempompong

BAGI pemirsa radio, belakangan pasti kian akrab dengan lirik-lirik lagu di atas. Ya, lirik-lirik tersebut adalah sebagian dari lirik lagu "Kepompong" milik Sindentosca, yang dalam tiga bulan terakhir cukup populer dalam ajang chart di sebuah stasiun radio. Bahkan, lewat request menggunakan SMS oleh pemirsa, lagu "Kepompong" selalu menempati urutan teratas sehingga cukup wajar jika lagu tersebut sering diputar dan mengakrabi telinga pemirsa.
Bisa disebut, dalam kondisi industri musik saat ini yang lebih banyak disesaki oleh lagu-lagu bertema "cinta melulu" dan bernuansa mellow, kehadiran lagu "Kepompong" seolah memberi warna baru. Lebih segar, orisinal, dan pantas jadi alternatif. Bukan saja liriknya yang unik, tetapi vokal penyanyinya punya warna tersendiri, khas Sindentosca. Siapa Sindentosca?
Sindentosca adalah nama lain dari seorang solois bernama Jalu Hikmat Fitriadi. Bisa disebut Sindentosca adalah Jalu itu sendiri: ia merangkap sebagai vokalis, pencipta lagu, pengaransemen musik, dan manajer. Yang paling mengejutkan, lagu "Kepompong"-musik dan liriknya ia garap seorang diri di kamar kontrakannya. "Kecuali vokal, semua suara musik dalam lagu tersebut dihasilkan melalui program komputer, tetapi kemudian diaransemen ulang," kata Jalu.

Kini, lagu "Kepompong" sudah masuk dapur rekaman melalui Nu Buzz Network, sebuah komunitas bagi mereka yang ingin menyalurkan bakat dan kreativitas bermusik. Lagu "Kepompong" menjadi salah satu single andalan album kompilasi Nu Buzz 1.1 bersama sepuluh lagu lain. Pencapaian Sindentosca sudah merupakan prestasi tersendiri karena kini pecinta musik di tanah air sudah mengenal dan menyukai lagu "Kepompong".

Variasi genre

Namanya juga album kompilasi, pasti penuh warna. Meski semua lagu dalam album ini masih berkutat pada area pop, tetapi terdengar jelas adanya sentuhan variasi genre, seperti jazz, rap, punk, bahkan hip hop. Ini memang menjadi sesuatu yang tak bisa dihindari karena sebelas grup band dan penyanyi pengisi kompilasi Nu Buzz 1.1 membawa warna musik yang berbeda-beda.

Bersama Sindentosca, "pesawat" Nu Buzz 1.1 juga membawa serta Urban Vibe, grup band asal Bandung, yang beranggotakan Ferry Fernando (vokal/gitar), Don Alfred Mahulete (bas), dan Ivan Chandra Lesmana (drum). Grup band ini mencoba menawarkan harmoni musik pop dengan irama soul (black music) dan jazz.

Menurut Ivan, sebenarnya tidak ada band atau penyanyi luar yang benar-benar memberi influence secara dominan kepada Ubran Vibe. "Pengaruh itu lebih kepada masing-masing personel, ketika main bareng, ya semuanya melebur dan memberi warna musik kami seperti ini," kata Ivan.

Selain Urban Vibe, ada juga Coffee N Cream (Yogyakarta) dan The Ellise (Jakarta). Aliran musik yang diusung Coffee N Cream adalah sweet pop dengan konsep pop ceria dan ringan. Sementara The Ellise, mengusung musik pop yang banyak mendapat pengaruh dari band-band dan penyanyi solois retro seperti ABBA, Linda Ronstadt, Bee Gees, Koes Plus, Vinda Panduwinata, Benyamin Sueb, dan James Brown.

Nuansa akustik tampak terasa berkat kehadiran Drew(baca: dru) dan Adhitia Sofyan. Drew adalah grup band asal Jakarta dengan personel yang sudah punya komunitas sendiri dan sering tampil secara live acoustic di salah satu kafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Sementara Adhitia Sofyan, pria asal Solo, adalah penyanyi yang sangat mengandalkan konsep akustik dengan gitar andalannya.

Grup band asal Yogyakarta, Differ, mencampurkan warna musik funk, fusion, dan acid jazz. Sedangkan grup musik 2nd Clan dari Semarang mencoba menawarkan aliran hip hop yang riang dan mengentak-entak. Sementara Closehead, grup band yang cukup populer dari Bandung, bermain dalam irama punk rock.

Yang unik adalah kehadiran These R Fake, grup band beranggotakan empat orang mahasiswa ITB, yakni MissNerdie (looping/vokal), NastySaint (Vokal), Didit Tripping (gitar), dan Sherryta (drum). Mereka membawa aliran dance punk atau electroclash. Meski demikian, mereka sendiri mengaku ingin membuat ramuan musik yang sederhana dan unik, serta berbeda dari yang sudah ada, yakni ramuan rock dengan beat nakal elektronik.

Seperti halnya Sindentosca, These R Fake menghasilkan lagu lewat program komputer. "Pengalaman paling mengesankan dan sulit dilupakan bagi kami adalah lagu yang masuk kompilasi Nu Buzz tidak kami rekam di studio yang biasa untuk rekaman, tetapi di kamar kontarakan. Studionya adalah kamar kontrakan," kata NastySaint.

Lirik-lirik unik

Meski masih berceloteh tentang cinta, lirik tiap lagu dalam album kompilasi ini unik dan kadang menggelitik. Beberapa di antaranya (pada awalnya) terdengar norak, tapi setelah berkali-kali diputar, kok terdengar enak. Simak saja lirik lagu "Cewe Manja"-nya 2nd Clan. "Hai cewek manja//dasar anak mama //begitulah pacarku// bagaimana pun aku tetap sayang kamu…".

Atau lirik-lirik lagu Adhitia Sofyan dalam "Memilihmu". "Memilihmu perlu persiapan dan mental Bagai memilih masuk ke sekolah unggulan Memilihmu bisa makan waktu yang panjang Satpam depan suruh aku ambil nomor tunggu…." Memang liriknya berisi ungkapan putus asa dan kepasrahan, tapi cukup membuat orang yang mendengarnya tertawa.

Lirik-liriknya tak melulu berisi ungkapan yang vulgar, realis, atau olok-olok. Ada pula yang liriknya cukup puitis. Lagu "Unromantic" milik Drew, termasuk salah satunya, "Aku tak perlu setangkai bunga mawar// atau menghitung bintang di tengah malam// tak perlu lagi ada lagu cinta// atau rangkaian puisi tentang kita…".

Terlepas dari berbagai kekurangan, lagu-lagu karya para pendatang baru dalam album ini cukup menjanjikan. Menurut Promotion Manager Nu Buzz Network, Ina Nurulita, proses pemilihan artis dan lagu yang masuk ke dalam Nu Buzz 1.1 tidaklah mudah. "Awalnya ada ratusan demo lagu yang masuk. Dari ratusan lagu yang dikirim oleh grup band dan penyanyi pendatang baru dari berbagai kota di tanah air itu kemudian "diperas" menjadi 21 lagu.

"Nah, 21 lagu inilah yang masuk daftar chart radio partner dan diputar secara regular selama hampir tiga bulan. Melalui request yang dikirim lewat SMS, para pendengar radio kemudian menentukan sebelas lagu favorit dan lahirlah album kompilasi ini," kata Ina menjelaskan.

Kita berharap, dari album "keroyokan" ini kelak lahir bintang baru, yang bisa lebih memberi semarak warna musik di tanah air. Bukankah dulu Coklat, Padi, dan Letto juga memulai perjalanan mereka di industri musik dari album kompilasi sampai akhirnya terkenal seperti sekarang juga? Siapa tahu, dengan diberi kesempatan sama, para pendatang baru ini bisa unjuk diri membuktikan bahwa mereka juga pantas jadi bagian penting dalam industri musik tanah air.


Dewi Dewi Gandeng Mulan Jameela

Kelompok vokal Dewi Dewi kini resmi berdua. Ina, salah seorang personelnya, resmi hengkang sejak 1 Juni lalu. Tapi, Ina tak menghilang. Dia masih berada di bawah naungan manajemen Republik Cinta. Menurut Ahmad Dhani selaku panglima dari manajemen yang didirikannya itu, Ina tak sesuai dengan lagu pop Dewi Dewi. Ina menginginkan musik yang sesuai dengan idealismenya, jazz. ”Kita akan buatkan album jazz untuknya. Itu memang sesuai dengan jiwanya,” ucap Dhani . Meski begitu, Dewi Dewi tetap survive beranggota Tata dan Puri. Khusus kemarin, Dewi Dewi bergabung dengan Mulan Jameela. Sebab, mereka syuting klip lagu berjudul Sakit Bukan Main. Lagu ciptaan Dhani itu memang dinyanyikan Dewi Dewi dan Mulan. Sakit Bukan Main adalah satu di antara tiga lagu baru Dewi Dewi dalam album kompilasi artis-artis manajemen Republik Cinta. Dewi Dewi dan Mulan memakai kostum futuristik dalam syuting klip yang disutradarai Tepan Kobain tersebut. ”Saya tidak ingin menyatukan image keduanya.

Mulan punya image sendiri, Dewi Dewi juga punya image sendiri. Biar satu konsep, image mereka tetap berbeda,” jelas Tepan. Demikian pula kostumnya. Pada kostum kedua, Mulan mengenakan kostum ala suster dengan atasan warna hitam dan bawahan merah serba mengkilap. Sedangkan Tata dan Puri kompak memakai kostum glamor merah. ”Masing-masing memang sibuk mikirin baju,” kata Mulan. Menurut Tata, kerja sama dengan Mulan itu merupakan pengalaman pertama. Terlebih untuk satu album bersama. ”Ditambah Mulan, kami lebih fresh. Sebab, ada karakter vokal yang lain,” ujar Tata. Puri mengangguk setuju. Menurut dia, sangat seru bisa bernyanyi bersama Mulan. Terlebih, Puri menganggap Mulan sebagai superstar. ”Banyak ilmu yang bisa diambil dari kolaborasi ini. Entah itu teknik vokal, cara akting, dan segala macamnya,” imbuh dia. Menurut Dhani, total ada 13 lagu di album kompilasi itu. Sepuluh di antaranya adalah lagu-lagu lama Dewa 19, The Rock, Dewi Dewi, Andra and The Backbone, dan Mulan Jameela. Selain Sakit Bukan Main, dua lagu baru lainnya berjudul Nasionalisme, dinyanyikan duet The Rock-The Koil. Satu lagu lagi berjudul Perempuan Paling Cantik di Negeri Indonesia, dilantunkan Dewa 19. ”Mungkin saja lagu ini (Perempuan Paling Cantik di Negeri Indonesia, Red) bisa jadi lagu ajang putri-putrian atau miss kecantikan begitu. Bagus, kan? Liriknya indah kok,” canda Dhani.

Presiden Band

Grup asal Lampung ini memulai debutnya dengan meluncurkan album perdana bertajuk Fenomena yang mengandalkan lagu Mencintai Dua Hati (M2H).

"Kami hadir dari sebuah impian. Jika dulu hanya sekadar mimpi, kini kami sudah meraihnya. Bertahun-tahun kami ingin membuktikan kemampuan musikalitas yang sudah didapat dari pengalaman," ujar Andharma, lead gitar yang lagu-lagu ciptaannya mendominasi album perdana tersebut.

Munurut Andharma, grup mereka lebih cenderurung ke warna musik pop. Hanya di beberapa lagu saja yang dikombinasikan dengan genre musik lain sehingga muncul nuansa beatnya. Sedangkan untuk musiknya digarap oleh musisi berpengalaman Sam Bodo dan Kamal.

"Ibaratnya kami ingin menyajikan makanan gado-gado, namun bisa dinikmati semua orang. Baik tua, muda, maupun kalangan ABG," lanjut Andharma.

The Presiden digawangi Andharma (lead gitar), Adi Swing (bas), Arman (vokal), Dyan (drum), dan Iwan (Keyboard) ini mengaku sudah bersenyawa dalam bermusik. Dengan begitu, dari proses yang dilalui dihasilkan karya-karya yang kiranya dapat dinikmati oleh penggemar musik Tanah Air

Aura Kasih Mari Bercinta














Nama Aura kasih memang tergolong baru dalam dunia musik Indonesia, namun melihat selera musik dari dirinya. Aura kasih yang pernah menjadi finalis Miss Indonesia, cukup membuat dunia musik berguncang. Aura Kasih sangat terinspirasi dari musik pop, rock, alternative, raggae, hingga dance hall sekali pun, dan dalam album pertamanya tersebut Aura Kasih juga membawa musiknya ke dalam musik pop yang digabungkan dengan beat-beat lainnya yang sangat menarik